Anies Baswedan : Pendidikan Indonesia Masa Depan

KBRI Paris, 9 maret 2011,

Indonesia sejak awal masa demokrasi sudah dihadapkan dengan berbagai masalah seperti pendidikan, International relation, Negara dan Agama. Masa-masa kuliah untuk kita adalah masa-masa yang menantang, tetapi percayalah bagi semua yang sedang mengalami kesulitan sekolah berarti sedang menyalakan masa depan Indonesia. Seperti yang tersirat di dalam janji kemerdekaan Indonesia:

  1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  2. Memajukan kesejahteraan umum
  3. Mencerdaskan kehidupan bangsa
  4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Hal tersebut merupakan cita-cita bangsa, namun seharusnya janganlah menjadi cita-cita semata, karena janji adalah sesuatu yang harus kita penuhi.

Setiap membicarakan Indonesia, kita selalu memulainya dengan keluhan. Baik di hotel bintang empat, warung tegal, ataupun kampus, pembicaraan itu selalu diawali dengan keluhan. Dengan kata lain terdapat pesimisme kolektif, dimana begitu besarnya nuansa negatif yang ada. Oleh karena itu, marilah kita mulai dengan membangun optimisme untuk Indonesia.

Berdasarkan data statistik, pada tahun 1945, hanya 5% dari masyarakat Indonesia tergolong literate. Sedangkan pada tahun 2010 jumlah tersebut meningkat menjadi 92%. Sehingga bisa dikatakan tidak banyak Negara yang bisa melakukan hal tersebut. Apabila kita membayangkan situasi pemimpin Negara pada masa itu ketika 95% warganya illiterate, seharusnya para pemimpin tersebut memiliki semua alasan untuk pesimis, namun sebaliknya mereka tetap optimis. Jika dibandingkan dengan dewasa ini, dimana kita memiliki banyak alasan untuk menjadi optimis, tapi sebagian besar dari kita memilih menjadi pesimis. Maka ada yang salah disini.

Jumlah mahasiswa Indonesia dalam 3 dekade meningkat secara signifikan, walaupun masih dibawah Perancis. Berdasarkan data pada tahun 2007-2008, jumlah anak yang mendaftarkan diri di sekolah dasar (SD) mencapai 4.6 juta orang anak. Namun alangkah sayangnya angka tersebut berbanding terbalik yaitu 292 ribu yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi dan begitu pula halnya dengan siswa-siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMA hanya samapai pada angka 1.7 juta saja. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak dari masyarakat kita yang tidak memiliki niat untuk menyekolahkan anak bangsa hingga lulus dari perguruan tinggi. Namun pada kenyataannya, masalahnya tidaklah sesederhana itu, di sini kita dihadapkan pada masalah yang sangat kompleks.

Berdasarkan data performance di TIMSS Science:

Beberapa Negara seperti Taiwan, Korea, Singapura, dan Hongkong, posisi high dan advancenya mencapai 70%. Sedangkan Indonesia, jika dilihat dari below minimum hingga intermediate mencapai 70%. Persentase ini tentu saja juga harus dilihat berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk di Indonesia, yang tentu saja apabila dibandingkan dengan Negara lain akan menghasilkan jumlah yang berbeda. Sehingga bisa dilihat kembali bahwa masalah yang paling signifikan di Indonesia adalah mengenai kuantitas dan kualitas.

Pelaku terpenting bagi pendidikan Indonesia adalah guru. Merekalah yang berada di ujung terdepan pelaksanaan pendidikan. Jika kita berbicara tentang guru, maka kita memiliki fakta yang mencengangkan. Pertama-tama mengenai distribusi guru yang perbandingannya adalah 1:21, dimana masalahnya terdapat pada pendistribusian guru yang tidak merata. Dalam hal ini, masih banyak ditemui sekolah-sekolah di kota-kota besar yang tercatat memiliki kelebihan guru, namun jika kita berjalan jauh di luar jalan raya kita akan dengan mudahnya menemukan sekolah-sekolah yang masih kekurangan guru.

Ditambah lagi dengan masalah kualitas guru di Indonesia. Nilai maksimal kualitas guru adalah 11. Sedangkan nilai kualitas guru di Indonesia adalah 5.5. Sehingga dapat dikatakan bahwa kita dihadapkan pada masalah pendistribusian guru yang tidak merata dan juga kualitas guru yang masih rendah. Oleh karena itu, “something needs to be done”.  Kita dihadapkan pada pilihan “continue to curse the darkness or let’s light the candle”. Apabila kita memilih untuk terus mengecam, maka akan terlalu banyak daftar yang sah untuk dikecam.

Indonesia berbeda dengan Negara lain, kita dengan latar belakang masyarakat yang buta huruf. Namun Indonesia yang sekarang sudah lebih maju dari sebelumnya. Apabila kita melihat potret tersebut dari masa sekarang, “yes it is not good news”. Sebaliknya jika melihat potret tersebut dari masa lalu “It is better!”

Hal tersebutlah yang melatar belakangi saya dan teman-teman untuk mengundang anak-anak terbaik bangsa untuk menjadi guru. Mengapa kita memilih anak-anak terbaik?

Hal tersebut karena kita ingin mereka menjadi role model  untuk lingkungannya, bukan hanya menjadi seorang guru. Mereka harus menjadi visualisasi mereka ataupun anak-anak mereka.

Pada awalnya banyak bermunculan pertanyaan apa kita mau anak-anak terbaik ini menjadi guru? Permasalahannya adalah bukannya mereka tidak mau menjadi guru, namun mereka tidak mau menjadi guru seumur hidup. Mengapa? Karena di kepala mereka banyak yang berpikir bahwa pada kenyataannya kehidupan menjadi guru adalah buruk. Kurun waktu itulah yang banyak membuat orang khawatir. Maka dari itulah program tersebut dibatasi menjadi satu tahun, yang pada akhirnya membuat banyak anak terbaik bangsa berbondong-bondong mendaftar di Indonesia Mengajar.

Terbukti pada angkatan pertama sebanyak 1388 anak terbaik bangsa sudah mendaftar. Selanjutnya angkatan kedua sudah mencapai 4000 orang anak terbaik bangsa yang mendaftar . Dengan kata lain, ternyata masih banyak anak-anak muda terbaik bangsa yang mau ditempatkan di tempat-tempat sulit. Anak-anak tersebut bersedia meninggalkan kenyamanan kota-kota besar untuk berada di daerah yang sulit.

Pada saat pelepasan anak-anak terbaik ini di bandara yang bernama Soekarno-Hatta. Saya baru menyadari bahwa anak-anak terbaik ini memilih untuk meninggalkan segala kemungkinan untuk hidup nyaman, sebaliknya mereka lebih memilih memilih kemerdekaan Indonesia.

Alangkah baiknya apabila pendidikan saat ini jangan dijadikan program pemerintah lagi, namun harus menjadi suatu gerakan masyarakat. Karena pada dasarnya mendidik adalah tugas semua orang terdidik.

Sama halnya seperti lingkungan hidup, dimana 15-20 tahun yang lalu masih menjadi suatu program, namun saat inisudah menjadi tanggung jawab semua orang.

Oleh karena itu sebaiknya pendidikan harus menjadi suatu gerakan di Indonesia, dimana semua orang harus melakukan sesuatu sesuai dengan scope-nya.

Tantangan terbesar untuk Indonesia saat ini adalah bagaimana kita menangkap perubahan yang terjadi di dunia yang sangat pesat ini.

Sejak tahun 2007, terdapat lompatan peningkatan porsi Asia yang sangat besar di dalam perekonomian dunia, seperti Cina dan India. Namun Indonesia disini dituntut untuk dapat mengantisipasi perubahan yang akan terjadi.

Lalu, dimana posisi kita nanti?

Dalam hal ini kita perlu untuk membangun lebih banyak world class leaders. Seperti halnya world class football player, bukan cuma jago di liga premier, namun bisa ditempatkan dimana saja.

Dalam 10 tahun, perlu 33000 world class leader ini, namun kita hanya mempunyai 11000. Lalu, darimanakah kita bisa mendapat sisanya?

Di dalam suatu perusahaan, mereka bisa saja memilih expatriat. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk leadership, sehingga pada akhirnya kita secara relative menjadi tertinggal. Oleh karena itulah diperlukan usaha yang serius untuk menyiapkan human resource kita di masa depan.

Bagi teman-teman yang sedang belajar di berbagai belahan dunia, anda akan pulang minimal dengan membawa tiga kompetensi diatas teman-teman yang menuntut ilmu di Indonesia :

  1. State of the art knowledge
  2. Penguasaan bahasa Internasional
  3. Jaringan internasional

Point ketiga adalah point yang harus benar-benar kita perhatikan. Pada umumnya, kita memiliki jaringan domestik yang kuat di luar negeri, dimana seharusnya dengan adanya kesempatan bersekolah di luar negeri membuat kita untuk lebih memperkuat jaringan internasional di luar negeri. Dimana kekuatan jaringan internasional tersebutlah yang nantinya akan menjadi strong engine untuk kemajuan Indonesia di masa depan. Oleh karena itu janganlah pernah melabeli anak-anak kita yang menutut ilmu di luar negeri sebagai anak-anak yang anti-nasionalis.

Selanjutnya kita perlu mengantisipasi kekurangan-kekurangan yang ada.  Masyarakat kita seringkali mengalami kegagalan. Kegagalan disini bukanlah karena ketidak mampuan, melainkan tidak adanya antisipasi terhadap sesuatu yang akan datang. Oleh karena itu disini diperlukan pembelajaran mengenai trend perubahan terutama mengenai bagaimana membaca perubahan-perubahan yang akan datang dan bagaimana memanfaatkannya.

Indonesia perlu dibangun oleh anak-anak muda yang sangat terdidik. Seluruh pendiri Indonesia semuanya adalah kaum intelektual. Mereka adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Mereka membangun bukan untuk dirinya. Mereka adalah pembaca zaman, mereka seringkali lebih dahulu dari zamannya. Kita harus membawa kemajuan itu ketika pulang ke Indonesia untuk mengantisipasi what is coming.

Indonesia sekarang ini masuk ke fase baru, dahulu kita masuk pada era lokal menjadi nasional, sedangkan sekarang dari era nasional menjadi global.  Dengan kata lain serupa dengan situasi pada tahun 30-an. Pada tahun 1928 lahir sumpah pemuda,  yang menarik  adalah satu nusa dan satu bangsa itu mudah, tapi satu bahasa itu tidaklah mudah. Hanya orang-orang pemberani yang membuat orang-orang percaya agar menggunakan bahasa lain. Disanalah lembaga pendidikan dihadapkan pada pilihan, apakah mereka mau mengajarkan bahasa lokal atau bahasa nasional. Yang menarik adalah ketika ada sekolah-sekolah yang tidak mengajarkan bahasa Indonesia, sehebat apapun mereka, mereka tidak akan bisa berperan jika tidak bisa bahasa Indonesia ketika republik ini terjadi.

Hal yang serupa yang kita alami sekarang ini, namun konteksnya berubah menjadi apakah kita mau mengajarkan bahasa nasional saja atau bahasa internasional. Saat ini kita dihadapkan pada masalah “nasionalisme”, dimana hampir sama seperti kondisi saat itu. Disini yg diperlukan adalah keberanian para pendidik-pendidik kita agar mau membekali anaknya untuk masa depan atau untuk masa lalu.

Pendidikan adalah kunci. Contoh kasusnya adalah pada tahun 1950, pemerintah memutuskan untuk mendirikan SMA di setiap kabupaten. Dalam hal ini proses pembangunan tidaklah sulit, kesulitannya terletak pada pencarian tenaga pengajar. Pada tahun 1952, ada 8 orang mahasiswa dari UGM yang menyatakan dirinya untuk menjadi guru SMA di tempat-tempat dengan lokasi tersulit salah satunya adalah di daerah Kupang. Mereka mengajar selama 2 tahun ketika masih menuntut ilmu di perguruan tinggi. Selesai mengajar, Ia mengajak 3 orang yang paling pintar, 2 orang menjadi rektor, yang ke 3 menjadi gubernur bank Indonesia. Dalam 10 tahun, mereka meng-cover 161 sekolah. Mereka adalah orang-orang yang membuat lompatan banyaknya mahasiswa. Sehingga sekarang ini kita mulai bisa menyaksikan people of nobody bisa merasakan bangku sekolah. Selanjutnya, pada tahun 1980-an barulah muncul kelas menengah baru yakni the children of the new middle class.

Kita selalu merasa bahwa pendidikan adalah kewajiban Negara. Dimana Negara memiliki kewajiban untuk mencerdaskan bangsa. Kita tidak pernah sadar bahwa ketika kita naik kelas seyogyanya kita dapat menaikkan yang lain. Dengan kata lain kita harus dapat memberikan sesuatu untuk sekolah-sekolah kita terdahulu yang telah menjadikan kita seperti sekarang ini. Pendidikan tidak pernah dilihat sebagai alat rekayasa sosial, pendidikan selalu dianggap sebagai alat untuk mencerdaskan. Dapat dilihat contohnya bahwa anak yang nilainya tinggi tapi tidak mampu, mereka ada kesempatan untuk meraih beasiswa, namun untuk anak yang nilainya rendah dan tidak mampu maka masa depannya akan suram. Oleh karena itulah diperlukan kesadaran mengenai pentingnya pendidikan haruslah diubah. Teman-teman yang saat ini ada di daeraj-daerah yang sulit inilah yang sudah memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Pada intinya adalah jangan menganggap dengan mengikuti program ini adalah menjadi pengajar muda. Menjadi bagian dari program ini bukan menjadi pengajar muda saja, namun spirit dari kita adalah menggandakan. Dengan kata lain adalah dengan menggandakan cerita-cerita ini, kita dapat menginspirasi tempat-tempat lain dimana hal tersebutlah yang lebih bernilai  dibandingkan hanya melalui Indonesia Mengajar. Be part of this dengan cara menggandakan spirit untuk mendidik dan mengajar.

Akhir kata “Mengajar” bukan “Mendidik”, karena mendidik memiliki arti yang lebih luas. Disini kami hanya mengambil peran untuk mengajar, bukan untuk datang dengan kesan ingin mendidik. Sehingga apabila banyak dari teman-teman yang belum mendapatkan kesempatan untuk menjadi pengajar muda, langkah yang bisa diambil adalah “let’s spread the spirit”.

oleh Andi Liza Patminasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s