Narbonne: Where Culture Meets The Shore

Perjalanan saya ke Prancis adalah sebuah keajaiban. Mungkin itu kalimat pertama yang selalu saya pegang semenjak saya sampai di tanah kelahiran Napoleon ini. Berangkat dari keluarga sederhana dengan penghasilan orang tua yang hanya seorang pegawai negeri sipil biasa namun bercita-cita tinggi untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya, hanyalah impian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Berbeda dengan sebagian besar teman-teman saya di PPI Prancis (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Prancis) lainnya, yang mungkin memulai awal perjalanannya di Prancis langsung sebagai pelajar atau mahasiswa di negara yang terkenal dengan menara Eiffel-nya. Cerita saya ini mungkin bisa mewakili impian pelajar-pelajar lain yang ingin mengikuti jalan yang sama dengan saya untuk sampai ke Prancis.

I was an au-pair girl. Apa itu au-pair girl? Kata tersebut tentunya masih sangat awam didengar oleh masyarakat Indonesia. Au-pair bisa dikatakan sebagai asisten domestik yang berasal dari negara asing yang bekerja untuk sebuah keluarga tertentu, dimana dia akan tinggal di rumah keluarga tersebut dan dianggap seperti bagian dari keluarganya. Au-pair itu sendiri berasal dari kata “on a par” yang berarti “sama dengan”, yakni menunjuk pada hubungan yang setara dengan yang lainnya. “The au pair is intended to become a member of family“. (source: wikipedia)

Pada dasarnya, au-pair girl nantinya akan bertugas menjaga anak-anak (childcare) dan juga mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga (housework). Seperti layaknya keluarga pada umumnya, au-pair ini wajib diberi uang saku oleh sang house parents (orang tua angkat) untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Walaupun sebagaian besar waktu digunakan untuk bekerja, namun au-pair girl disini diwajibkan untuk mengikuti sekolah bahasa setempat sebagai bentuk pertukaran budaya dan pengenalan bahasa setempat. Itulah yang menjadi tujuan utama mengapa pemerintah Prancis mengkategorikan au pair girl sebagai pemegang visa pelajar (student visa) dan bukan visa pekerja.

Lalu mengapa sebagian besar negara-negara maju di Eropa dan Amerika, lebih memilih mencari au-pair girl? Sepengetahuan saya, misal di Prancis sendiri, au-pair girl lebih banyak dicari ketimbang femme de ménage (asisten rumah tangga) atau baby sitter, karena selain untuk meminimalisasi pengeluaran keluarga disisi lain juga dapat mengenalkan budaya asing ke dalam keluarganya. Au pair girl sendiri biasanya akan mendapatkan uang saku sebesar 200-300€ /bulannya, sangat irit bukan jika dibandingkan dengan mempekerjakan femme de ménage atau baby sitter, dimana mereka harus mengeluarkan kocek sebesar 9€/ jam atau kira-kira sekitar 1365€ /bulan sesuai dengan tarif minimum standar di Prancis (SMIC = salaire minimum interprofessionnel de croissance). Lumayan jauh juga bukan perbedaannya?

Saya sendiri tinggal di sebuah keluarga Prancis di sebuah kota kecil di Prancis bagian selatan, Narbonne, di region Languedoc Roussilon. Kota yang sangat tenang dan jauh dari keramaian, namun terkenal dengan penghasil minuman anggur rosé atau rose wine. Beberapa anak seumuran saya disini menyebut kota ini sebagai “une ville pour des retraites” (kota untuk para pensiunan). Walaupun demikian, Narbonne mempunyai arti sendiri bagi saya pribadi, yakni kota dengan sejuta keramahan, yang membuat saya ingin selalu kembali lagi kesana.

Narbonne, kota dengan luas 172.96 km2 dan populasi yang berdasarkan statistik pada tahun 2008 sebanyak 52, 252 penduduk ini sangat bersahabat dengan angin (source: wikipedia). Mengapa begitu? Karena kota ini berbatasan langsung dengan laut mediteranian. Tidak jarang kota ini dilanda angin kencang berkekuatan lebih dari 100 km/jam. Sebuah kenangan unik terbang terbawa angin akan selalu membuat saya tertawa. Suatu hari, tepat beberapa hari saja setelah saya sampai di sana, saya bermaksud berjalan-jalan mengelilingi lingkungan tempat saya tinggal, Montredon-des-Corbières, sekitar 7,3 km dari kota Narbonne. Saat itu sudah memasuki pertengahan musim dingin, tepatnya di awal bulan Februari, angin bertiup dengan kencangnya, mungkin sekitar 80 km/jam, saya yang sedang berjalan kaki dengan santainya pun dengan mudahnya tertiup angin. Suatu kenangan yang membuat saya tertawa miris, bukan karena memang badan saya yang mungil, tapi memang ketika itu angin bertiup dengan sangat kencang sekali, bahkan sedikit berbahaya. Semenjak kejadian itu, sebelum keluar rumah, saya selalu melihat 14 kincir angin yang terlihat jelas berjejer rapi dari jendela kamar saya. Karena ketika putarannya kencang, itu artinya saya harus berfikir dua kali sebelum memutuskan untuk keluar rumah dengan berjalan kaki.

Saya datang ke Prancis ini bisa dibilang hanya bermodalkan “bonjour” (selamat pagi) dan “excusez moi” (excuse me). Kota inilah yang benar-benar mengajarkan saya merangkai sebuah kalimat dengan benar dan mengenal budaya Prancis. Sebuah nilai positif yang tidak pernah akan saya lupakan dari pengalaman saya sebagai au pair girl. Bisa dibilang saya adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota Narbonne, sampai pada akhirnya setelah 3 bulan tinggal disana saya menemukan keluarga Franco-Indonesia yang sudah tinggal 20 tahun lebih di kota itu. Saya diwajibkan berbahasa Prancis setiap harinya karena hanya dengan bahasa itulah saya bisa berkomunikasi dengan host family dan lingkungan sekitar. Jangan salah, walaupun Prancis sangat dekat dengan Inggris, namun sebagian besar penduduknya banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, beruntunglah kita sebagai orang Indonesia yang selangkah lebih maju dalam persoalan berbahasa Inggris.

Sekali lagi, kota ini benar-benar mengajarkan banyak hal kepada saya. Pelajaran pertama adalah bagaimana berbelanja kebutuhan sehari-hari, jika di sekolah bahasa Prancis saya mengalami kesulitan untuk menghapal semua kata-kata produk rumah tangga, sayuran, buah-buahan dan lain-lain. Well, smart shopping, itulah kesan pertama saya terhadap sistem perbelanjaan di Prancis. Dengan diberi bekal kartu belanja dan alat scan produk, kita akan diberi kemudahan dalam pembayaran dan pengontrolan jumlah belanja kita. Bisa dibilang tugas berbelanja ini adalah tugas yang paling menantang. Walaupun awalnya saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukan rayon barang sesuai dengan apa yang tercantum di shopping list, namun dengan berjalannya waktu, saya sekarang sudah cukup ahli untuk itu. Berbekal shopping list berbahasa prancis yang ditulis oleh host mother saya, saya ditantang untuk menemukan produk-produk yang tidak saya ketahui terjemahannya. Sesekali saya bertanya kepada pegawai setempat untuk memudahkan saya menemukan beberapa produk yang tidak berhasil saya temukan langsung. Selain dapat berinteraksi dengan orang lain, di sisi lain ada kepuasan tersendiri ketika saya berhasil menemukan produk tertentu dan mengetahui terjemahannya. Positifnya, kekayaan saya akan kata benda berbahasa Prancis semakin luas lagi, suatu permulaan yang baik bukan?

Tempat tinggal saya yang terletak di suburb kota Narbonne, dimana bus kota hanya melintas 4 kali dalam sehari, membuat saya harus selalu diantar dengan mobil untuk beraktivitas sehari-hari. Untungnya, sebelum berangkat ke Prancis, sebuah sim internasional sudah saya persiapka, hal ini memudahkan saya untuk bermobilisasi dengan mobil pribadi keluarga tempat saya tinggal. Dengan bermodalkan kursus mobil beberapa hari sebagai penyesuaian stir mobil di sebelah kiri ditambah pelajaran peraturan-peraturan lalu lintas di Prancis, saya mendapat pelajaran baru. Di sekolah mengemudi ini saya belajar bahasa “berlalu lintas”, disini, saya menjadi tahu istilah-istilah yang mungkin tidak akan pernah saya tahu jika saya tidak berangkat sebagai au-pair girl. Saya mungkin tidak akan tahu apa itu clignotant (lampu sen) atau priorité à droite (prioritas untuk pengendara dari sebelah kanan), dan juga priorité à gauche (prioritas pengendara dari sebelah kiri ketika berada di bundaran) dan masih banyak lagi peraturan berlalu lintas lainnya. Hal yang paling menarik ketika kursus mengemudi adalah ketika saya memutuskan, melepaskan sepatu saya ketika mengemudi seperti yang biasa saya lakukan di Indonesia, karena saya tidak mau sepatu saya cepat rusak, guru mengemudi saya pun langsung menyuruh saya memakai sepatu lagi karena bila kena pemeriksaan, hal ini termasuk dalam pelanggaran. Well, peraturan yang aneh bukan? Selain menjadi tahu istilah-istilah mengemudi, saya pun jadi bisa berkeliling kota sekaligus menghapal jalur-jalur yang tidak umum saya lewati. Menyenangkan bukan?

Masih seputar mengemudi, di Prancis ini terkenal sekali dengan sulitnya mendapatkan surat izin mengemudi atau SIM. Kita harus mendaftar di sekolah mengemudi resmi, hadir di setiap pelajaran, mengikuti tes rambu-rambu lalu lintas, dan tentunya tes mengemudi. Selain sulit, sekolah mengemudi dan tes mengemudi ini cukup mahal harganya, bisa sampai ribuan euro bahkan terkadang lebih mahal daripada membeli mobil bekas. Selain itu, tidak seperti di Indonesia ketika kita melanggar bisa saja bayar denda di tempat, di Prancis hal itu tidak berlaku, poin sim kita akan dikurangi oleh polisi dan ketika habis kita harus kembali mengulang segala rutinitas untuk mendapatkan SIM itu kembali.

Pelajaran berikutnya adalah “bagaimana cara mengisi bensin?” Hmm.. pertanyaan sederhana tapi menarik. Bersyukurlah bagi kamu yang tinggal di Indonesia, senyum hangat ramah tamah oleh petugas pom bensin adalah sambutan pertama ketika kita memasukinya, terkadang hanya dengan membuka kaca mobil dan duduk manis, mobil kita sudah terisi bensin dengan mudahnya. Disini, hal tersebut mungkin hanya angan-angan. Semua pom bensin disini manual, si pemilik mobil dituntut untuk mandiri. Biasanya ada dua jenis pom bensin, pertama, pom bensin yang terletak di kawasan hypermarket, disini kita membayar di kasir yang terletak di pintu keluar setelah mengisi bensin, dan jangan lupa untuk memperhatikan harga yang tertera di mesin untuk disampaikan pada petugas kasir, karena terkadang ketika mobil di belakang kita mengisi bensin datanya akan otomatis terhapus. Jenis pom bensin yang kedua biasanya terletak dijalur antar kota atau di jalan tol. Inilah pentingnya mempunyai carte bancaire (kartu atm), karena disini kita tidak bisa membayarnya dengan uang tunai.

Masukkan jumlah liter bensin atau jumlah uang yang akan dibayarkan ke mesin pom bensin (seperti di Indonesia) selanjutnya ikuti perintah untuk melakukan pembayaran dengan kartu bank tersebut. Jangan takut tangan teman-teman bau bensin, karena disana disediakan sarung tangan plastik untuk melindungi tangan kita dari tumpahan bensin. Pelajaran selanjutnya adalah jalan tol, sekali lagi beruntunglah yang tinggal di Indonesia, senyum ramah adalah hal pertama ketika kita masuk ke gerbang tol. Di Prancis, semuanya serba otomatis, bagi yang berlangganan, mereka akan diberikan semacam kotak penangkap sensor gerbang tol untuk terbuka dengan sendirinya. Bagi yang tidak, jangan khawatir, sekali lagi peran kartu bank dimainkan.

La Cuisine Français. Siapa bilang masakan Prancis itu sulit? Buat saya masakan Indonesia lebih sulit dan complicated dengan bumbu-bumbu dan rempah-rempah serta waktu yang lama untuk memasaknya. Pelajaran selanjutnya dalam bahasa Prancis kali ini adalah masakan Prancis. Kali ini saya ditantang untuk membuat masakan Prancis, pertama-tama mereka menuliskan saya nama menu di kertas, kemudian saya membuatnya. Grace à l’internet (terimakasih pada internet), saya diberi kemudahan untuk mencari gambar dan berbagai resep masakan Prancis. Voila, masakan Prancis dengan sentuhan tangan Indonesia memang tiada tandingannya. Tangan Indonesia yang biasa bermain dengan bumbu membuat masakan Prancis menjadi kaya akan rasa. Beberapa masakan Prancis yang pernah saya buat adalah masakan khas musim dingin : Blanquette de Boeuf (semacam sup daging dengan tambahan crème fraise dan sayuran segar), makanan khas musim panas salade de riz (campuran nasi dingin, jagung, selada, tomat segar, olive, dan saus balsamic) sangat cocok dimakan dibawah teriknya matahari. Pelajaran yang saya ambil disini adalah saya dituntut untuk mengetahui istilah-istilah memasak sekaligus mempraktikannya. Apakah teman-teman tahu bahwa selama ini sup-sup ala Prancis yang dijual dibeberapa café di Indonesia seperti cream soup dengan jamur dan ayam, ternyata kenyataannya bukanlah sup ala Prancis, bagi mereka itu adalah saos pendamping steak. Yang dinamakan sup disini adalah campuran sayur-sayuran yang direbus di air kaldu sampai matang lalu diblender sampai benar-benar halus.

Bekerja di sebuah toko meuble. Selain sebagai au pair girl, saya pun bekerja di toko meuble keluarga Prancis tempat saya tinggal. Saat musim panas adalah puncak-puncaknya pengunjung, dimana permintaan meuble du jardin (meuble taman) sedang meningkat. Saya pun membantu proses pemaketan di depot meuble tersebut. Pelajaran yang saya dapat disini adalah bagaimana kita membungkus perabotan itu hingga siap dikirim melalui jasa pengantar atau manual melalui kantor pos. Dan ini bukan pekerjaan yang mudah, disini saya diajarkan bagaimana membaca suatu bon pemesanan dengan kode-kode barang berupa angka. Mengapa tidak mudah ? Pertama, depot yang begitu besar, dengan barang-barang yang masih dikardus dan terletak di tingkat, membuat saya harus memanjat hanya untuk melihat kode barang tersebut, disini kehati-hatian kita diuji karena salah satu angka saja barang tersebut sudah berbeda. Kedua, setelah menemukan barang, barang tersebut kita kumpulkan untuk siap dibungkus. Suatu kenikmatan jika dalam satu bon pemesanan hanya ada satu jenis produk, namun suatu kerja rodi ketika dalam satu bon pemesanan ada minimal 5 barang yang berbeda. Ketiga, membungkus paket, walaupun barang-barang tersebut sudah dibungkus kardus, namun agar membuatnya tidak tercecer dan mudah dikirim, kami harus melapisnya dengan plastik film dan setelah itu diberi perekat disekelilingnya. Yang terakhir dan yang terpenting adalah jangan lupa memberi nama pemesan sebelum ditempel stiker pos, karena jika tidak semua paket akan terlihat sama dan bisa mengakibatkan kesalahan fatal dalam pengiriman nantinya. Untuk pemesanan dalam kota biasanya kita antarkan pesanan itu langsung ke tempat tujuan, dan hal yang paling menantang disini adalah saya mengemudikan mini bus dan juga mencari alamat si pemesan. Pembelajarannya adalah hidup itu tidak mudah teman, jadilah orang yang kuat !

Kembali lagi ke Narbonne, kota yang tenang dan menyenangkan untuk mereka yang menyukai laut, pantai, rawa-rawa, kanal, itulah Narbonne. Narbonne terletak dekat dengan Canal du Midi (kanal tengah hari) yang berhubungan dengan Aude Rivier (sungai Aude), dimana dihubungkan dengan Canal de la Robine (kanal Robine) yang membelah pusat kota Narbonne. Dimana saat musim panas kita bisa menikmati berlayar dengan kapal pariwisata sepanjang kanal atau hanya sekedar menghabiskan sore menikmati suara air di bawah pohon rindang sepanjang kanal ini. Narbonne terletak di Via Domitia, sebuah Romaine Road yang pertama kali di bangun di Gallia, daerah Eropa barat pada zaman besi atau iron age dan Roman era, yang menghubungkan Italy dan Spanyol. Sisa peninggalan via domitia ini masih dapat ditemukan di pusat kota tepat di depan kantor walikota Narbonne (la mairie de Narbonne). Tepat di belakang kantor walikota terdapat La Catedrale Saint-Just et Saint-Pasteur, salah satu katedral dengan menara tertinggi di Prancis, uniknya sampai saat ini pembangunan katedral ini belum diselesaikan dan masih dijaga keasliannya. Ketika masuk kedalamnya, teman-teman bisa melihat sebuah organ raksasa yang pipa-pipa musiknya menjulang tinggi hampir menyentuh langit-langit katedral. Cahaya-vahaya matahari yang masuk melalui kaca-kaca patri membuat katedral ini begitu megah dan indah. Selain situs-situs budaya tersebut diatas, masih banyak lagi situs-situs medieval lainnya seperti l’église Notre-dame de Lamourguier (gereja Notre-dame de Lamourguier), La Musée Lapidaire (Museum Lapidaire), Basilique Saint-Paul de Narbonne, L’abbaye de Fontfroide yang terletak tidak jauh dari Narbonne.

Les Halles, yang dibangun pada 1 Januari 1901, arsitektur bergaya Baltard ini sekarang dijadikan pasar tradisional yang menjual produk-produk segar di Narbonne. Walaupun namanya pasar tradisional, namun harga-harga produk yang dijual lebih mahal dibandingkan hypermarket yang ada, mungkin karena yang dijual disini adalah produk-produk regional yang berkualitas tinggi. Disini kita bisa menemukan stand keju, wine, ikan segar dari laut Mediterania, dan masih banyak lagi.

Laut, pelabuhan dan pantai, Narbonne adalah surganya. Beberapa pantai yang bisa diakses dari Narbonne adalah la plage de Narbonne (pantai Narbonne),tempat dimana teman-teman bisa berjemur sepanjang musim panas, la plage Saint-Pierre de la Mer, tempat dimana teman-teman bisa menikmati banyak night club yang buka sepanjang malam hingga pagi hari atau restoran-restoran seafood yang enak. Les Cabanes de Fleury, ingin menikmati pantai yang sepi dan lebih privat, disini tempatnya. Port la Nautique, sebuah pelabuhan kecil dimana teman-teman bisa menikmati camping di dekat pelabuhan menikmati pemandangan burung-burung dengan indahnya, tempat ini cocok untuk teman-teman yang tidak terlalu suka matahari, karena disekitarnya banyak sekali pohon rindang. Leucate Méditerranée, pantai dan pelabuhan yang benar-benar bisa memanjakan mata teman-teman. Satu kata, ketika saya pertama kali menginjakan kaki disini adalah amazing !! Mungkin kalau teman-teman ada yang suka olahraga menantang seperti bungee jumping, ini adalah tempat yang paling sempurna. La plage de Gruissan, bisa dibilang ini adalah paket komplit pecinta pantai, terletak di kota kecil Gruissan, 20 menit dari Narbonne, pelabuhan, kota yang selalu ramai ketika musim panas, night club, restoran klasik di pinggir pelabuhan, festival musim panas, disinilah pusatnya.

Festival Trenet. Dimulai pada tanggal 3 Maret 1995 yang ditujukan untuk menghormati musisi Jazz lokal Narbonne, Charles Trenet, yang kemudian menjadi festival tahunan, dimana biasanya diadakan perlombaan seni dan musik yang juga menghasilkan penyanyi-penyanyi handal dari Prancis. Keunikan dari festival ini adalah sepanjang jalan pusat kota Narbonne yang disulap menjadi festival seni dan musik di jalan-jalan atau dikenal dengan istilah « festival des arts dans la rue ». Narbonne, seni, musik, dan puisi, kota dengan sejuta seni.

Artikel pernah dimuat di SPICE Magazine edisi April 2011.

     scan0006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s