Siapa bilang menunaikan ibadah puasa di Perancis itu sulit ?

Ini adalah tahun ke-tiga saya merasakan bulan ramadhan di Negara yang terkenal dengan minuman anggur-nya. Beruntung, saya masih bisa terus melanjutkan pendidikan master saya di Negara Napoleon ini melalui program Beasiswa Unggulan, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, karena tidak hanya pendidikan tinggi yang saya dapat, namun pengalaman berharga pun saya dapatkan selama saya menuntut ilmu di Perancis. Setiap dihadapkan dengan bulan ramadhan pastilah ada kesan tersendiri yang menarik untuk diceritakan. Salah satunya adalah menunaikan salah satu rukun islam, yakni berpuasa di tengah musim panas di wilayah Perancis bagian selatan.

Berbeda dengan Indonesia yang menunggu pengumuman pemerintah untuk mengetahui hari pertama bulan ramadhan. Kami, masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Perancis serempak menunggu pengumuman dari situs Mesjid Besar di Paris, yang pada akhirnya diketahui bahwa hari pertama bulan puasa disini jatuh pada hari jumat, 20 Juli 2012. Rasa haru dan senang terpancar bagi kami masyarakat dan mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Marseille dalam menyambut bulan ramadhan tahun ini. Maklum jumlah kami tidak begitu banyak, sebanyak warga Negara Indonesia yang ada di kota besar lainnya seperti Paris dan Lyon. Namun, suasana kekeluargaan dan kekerabatan semakin terasa dengan kehadiran Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Marseille. Terlebih lagi KJRI Marseille setiap minggunya menyelenggarakan buka bersama dan solat tarawih berjamaah. Kerinduan akan suasana ramadhan yang sangat terbayarkan. Tidak hanya kudapan khas Indonesia yang dinanti setiap minggunya, suasana ramadhan khas Indonesia yang kaya akan kekeluargaan dan toleransi mewarnai bulan ramadhan kali ini. Tamu undangan pun beragam, tidak hanya kami yang muslim, tidak hanya kami yang berkulit sawo matang, namun terlihat pula beberapa orang asing yang turut datang. Mereka biasanya adalah teman, kerabat atau sanak saudara dari warga Negara Indonesia yang tinggal di kota Marseille.

Tahun ini suasana ramadhan lebih terasa dari tahun sebelumnya, maklum, hampir kurang lebih 17 jam kami diwajibkan untuk menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu di tengah suhu 32-36 derajat setiap harinya. Tidak jarang dari teman-teman kami merasa puasa ini terasa begitu berat, terutama bagi mereka yang baru pertama kalinya merasakan bulan ramadhan di musim panas di Perancis. Namun, siapa bilang menunaikan ibadah puasa di Prancis itu sulit?

Produk Halal

Sebagai seorang muslim kita diwajibkan memakan makanan yang halal. Marseille, merupakan salah satu kota dimana kami bisa dengan mudahnya memperoleh produk atau makanan halal. Hampir sebagian besar penduduk muslim yang tinggal di kota Marseille, membeli produk halal di Marche de Noailles, sebuah daerah di Marseille yang menjual daging-daging berlabel halal. Bentuk dari pasar ini pun sangatlah unik, tidak seperti pasar tradisional di Prancis pada umumnya, dimana biasanya hanya ada satu toko daging, satu toko sayuran, dan satu toko rempah yang terdapat di satu wilayah bagian kota. Di Marche de Noailles ini, kita dimanjakan dengan toko-toko daging, ikan, sayuran segar dan rempah-rempah dengan harga yang bersaing. Dengan begitu kita bisa memilih produk dengan harga yang sesuai keinginan kita. Selain dimanjakan dengan produk-produk segar dengan label halal, kota ini pun kaya akan restoran-restoran yang menjual makanan halal. Sebut saja, kebab Turki atau makanan khas Tunisia pun berjamur di kota ini. Di bulan ramadhan biasanya restoran-restoran magribian ini menyediakan menu ramadhan dengan harga yang relatif murah.

Beribadah di Bulan Ramadhan

Marseille adalah kota tertua di Perancis yang sudah berumur kurang lebih 2600 tahun yang terkenal sebagai melting pot of immigration issues. Bagaimana tidak? Kota Marseille merupakan kota pelabuhan di laut Mediterranian, tempat para imigran berdatangan. Setelah mengakhiri perang dengan negara-negara magribian di benua Afrika, kota Marseille ini mulai didatangi oleh lebih dari 10 ribu pieds noirs atau penduduk kulit putih Prancis yang melarikan diri dari Aljazair dengan membawa generasi mereka begitu perang berakhir. Selain itu, dengan dikumandangkannya kemerdekaan negara-negara magribian bekas jajahan Perancis, kota ini semakin dibanjiri oleh penduduk asing dari negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim. Anak-anak hasil pernikahan silang antara warga negara magribian dengan penduduk Prancis, membuat mereka memiliki dua kewarganegaraan asalkan mereka dilahirkan di Prancis (baca : hukum berdasarkan tanah kelahiran).

Sekilas membaca sedikit intermezzo di atas, membuat kita tidak terkaget apabila kota ini memiliki lebih dari 70 mesjid atau ruang ibadah bagi mereka yang beragama muslim. Mengapa disebut ruang ibadah ? Bentuknya yang tidak seperti mesjid pada umumnya membuat kita terkadang harus bertanya dimanakah mesjid itu berada. Ruang ibadah ini lebih sering berbentuk sangat minimalis, yakni tidak ada kubah mesjid atau tempat wudhu yang luas yang menandakan sebuah bangunan mesjid. Mesjid di Marseille dan kota-kota Prancis lainnya, tidak jarang hanya berbentuk ruangan kosong dengan hamparan sejadah untuk solat. Hal ini dikarenakan Prancis adalah negara laïque, yakni tidak melandaskan negaranya pada agama-agama tertentu. Sehingga penduduk di negara ini tidak dibebaskan memperlihatkan simbol-simbol agama secara terang-terangan.

Berlebaran di Marseille

Tidak berbeda jauh dengan Indonesia, di Marseille, kami yang beragama Islam, dapat dengan mudahnya menemukan tempat untuk melakukan ibadah solat ied berjamaah. Tempatnya pun beragam, bisa di ruang ibadah setempat, atau di Parc d’Exposition, yakni sebuah tempat yang biasa dipakai untuk pameran-pameran berkelas lokal atau internasional. Setiap datang hari raya Idul fitri maupun Idul Adha, tempat ini disulap menjadi tempat ibadah kaum muslim yang bermukim di Marseille dan sekitarnya. Dengan dipilihnya tempat ini sebagai tempat menunaikan solat ied berjamaah, menggambarkan pula jumlah penduduk muslim yang besar di kota Marseille ini.

Well, walaupun beberapa wacana tersebut diatas menggambarkan kesulitan kehidupan beragama di Negara sang Napoleon. Namun, dalam praktiknya, kehidupan beragama disini, terutama bagi kami penganut agama islam tidaklah sesulit yang digambarkan. Semuanya tentu bergantung bagi pribadi-pribadi yang menjalankannya.

Jadi, siapa bilang menunaikan ibadah puasa di Prancis itu sulit? Jawabannya tentu saja TIDAK. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s