Hindari Tawuran Melalui Pengembangan Ekstra Kulikuler di Sekolah

Berita tentang tawuran antar pelajar sekolah menengah pertama yang terjadi di Jakarta baru-baru ini, cukup menampar dunia pendidikan di Indonesia. Alih-alih perhatian, sistem pendidikanlah yang disalahkan. Penggunaan anggaran sebesar 20 persen dianggap tidak dapat merubah wajah pendidikan nasional. Sebuah pikiran yang skeptis, menurut hemat saya, apabila kasus tawuran ini dikambing hitamkan. Karena nila setitik, rusak susu sebelangga.

Penyesalan adalah sebuah kata yang dapat diucapkan, seandainya sang waktu dapat diputar kembali. Sedangkan terlambat adalah sebuah kata yang dapat dikemukakan setelah kejadian yang seharusnya bisa dicegah namun terlanjur terjadi. Dalam hal ini, solusi bersama diharapkan dapat mencegah terjadinya kejadian yang sama untuk terjadi di kemudian hari.

Tidak dapat dipungkiri tawuran sudah dianggap hal yang “biasa” terjadi di kalangan para siswa sekolah menengah. Tindakan kekerasan yang seolah-olah dianggap “keren” di kalangan anak remaja ini baru dianggap meresahkan dan menjadi sorotan media massa, ketika tawuran berhasil menjatuhkan korban jiwa. Sungguh disayangkan. Tidak dapat dipungkiri, saya pun pernah berada di masa ketika tawuranini terkadang menjadi sebuah alih untuk mendapatkan pengakuan dalam dunia pertemanan.

Peranan sekolah disini harusnya bisa lebih dimaksimalkan, sehingga aktivitas negatif di luar lingkungan sekolah pun dapat dihindari. Selain organisasi intra sekolah atau OSIS, pada umumnya sekolah-sekolah di Indonesia banyak yang sudah memiliki kegiatan di luar akademik sebagai wujud pengembangan dan penyaluran bakat seorang anak. Jika peran kegiatan ekstra-kulikuler ini lebih dikembangkan di kalangan pelajar, seharusnya tawuran bukan saja dapat diminimalisir, namun bisa saja hilang dari kebiasaan para pelajar dewasa ini.

Jika ekstra-kulikuler saat ini masih menjadi pilihan, melalui kewenangan sekolah, seharusnya kegiatan non-akademik ini menjadi kegiatan yang diwajibkan. Dengan kata lain, setidaknya setiap anak memilih satu kegiatan non-akademik untuk membantu poin nilai sekolah mereka di akhir semester.

Dalam hal ini saya ingin mengambil sedikit contoh dari sistem pendidikan di Perancis. Hampir di semua sekolah di Perancis, tingkat SMA maupun perguruan tinggi, biasanya menyediakan media berinteraksi antar siswanya yang bertujuan sebagai wujud pengembangan bakat dan metode penyaluran hobi anak. Seperti kelas teater, musik, paduan suara, orchestra, olah raga, fotografi, dan masih banyak lagi. Tidak hanya disarankan untuk mengikuti latihan rutin dari berbagai kegiatan tersebut, disini sang anak pada akhir masa sekolah dituntut pula untuk menunjukan hasil pembelajaran mereka melalui berbagai lomba atau pentas seni yang diadakan oleh sekolah mereka maupun pemerintah daerah setempat. Ditambah lagi aktivitas non-akademik ini nantinya memiliki poin khusus di raport akhir semester mereka. Sekali menyelam dua tiga pulau terlampaui. Tidak hanya mengasah bakat anak, namun dapat memotivasi anak untuk terus berprestasi.

Selain itu dengan adanya aktivitas non-akademik ini, para pelajar pun dituntut untuk menjadi seorang pribadi yang disiplin. Kegiatan akademik yang sudah cukup menyita waktu dan konsentrasi, akhirnya dapat dijadikan sebagai cara untuk melatih mereka untuk lebih menghargai waktu, agar mereka tetap berprestasi dalam hal akademik maupun non-akademik.

Lalu apa peran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia?

Dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di segala bidang, khususnya mutu pendidikan dan pengembangan potensi sumber daya manusia, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia mencanangkan program beasiswa unggulan tingkat nasional maupun internasional. Sehingga tidak hanya si pintar dan si kaya lah yang bisa meraih pendidikan setinggi-tingginya, namun setiap anak Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, asalkan mereka berprestasi. Disini tidak hanya dalam hal akademik, namun jika mereka memiliki prestasi non-akademik, mereka pun bisa ikut bersaing untuk mendapatkan beasiswa ini.

Pada akhirnya melalui ekstra-kulikuler di sekolah, para pelajar dapat memulai untuk mengasah kemampuan mereka di bidang non-akademik, dan berprestasi sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Lalu, apakah masih pantas jika kita sekarang terus menyalahkan sistem pendidikan yang sudah ada? Mari kita kembangkan sistem pendidikan yang sudah ada ke arah yang lebih baik lagi, untuk kemajuan putera-puteri bangsa Indonesia dan demi kemajuan sumber daya manusia Indonesia.

oleh Andi Liza Patminasari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s