Obrigada Portugal!

(baca: terimakasih Portugal!)

Perjalanan saya ke Portugal adalah perjalanan yang benar-benar tidak direncanakan sebelumnya. Berawal dari pertemuan dengan seorang teman lama di Istanbul, Turki, yang kebetulan tinggal di Portugal, akhirnya dengan sedikit promosi-nya saya pun tergoda untuk terbang kesana bersama  seorang teman. Ditambah lagi pesawat pulang pergi kami tidak begitu mahal, hanya 50€ saja, lebih murah bahkan jika kami harus ke Paris dengan menggunakan kereta cepat. Yet, I was too excited to go to the very south of west European country, PORTUGAL. Bagi kami, pelajar Indonesia di Prancis, tidak mudah melakukan liburan ke luar Prancis tanpa rencana matang, walaupun mungkin orang-orang beranggapan bahwa ketika kami di Eropa, akan sangat mudah pergi ke negara-negara schengen lainnya, kenyataannya tidaklah semudah itu.

Pertama, jadwal kuliah di Prancis cukup padat ditambah pelajaran yang sulit, terkadang membuat kami tidak bisa memanfaatkan akhir pekan jauh dari kota tempat kami tinggal. Sebagian besar dari kami beranggapan bahwa week-end adalah satu-satunya jadwal untuk kami membayar hutang tidur di hari-hari sebelumnya yang sudah kami pakai untuk bergadang. Maklum sekolah di Prancis, apalagi bagi yang menggunakan bahasa Prancis, tidaklah se-simple membayangkan sekolah di la Sorbonne, Paris, bak tertulis dalam novel-novel ternama.  Karena itu, untuk melakukan perjalanan jauh pelajar-pelajar di Prancis biasanya lebih memilih berlibur pada saat hari libur nasional, atau perayaan tertentu seperti paskah, natal dan tahun baru, atau menunggu liburan musim dingin dan musim panas yang cukup panjang.

Kedua, bagi penerima beasiswa seperti kami, apakah itu beasiswa unggulan dari Kemendikbud, ataupun beasiswa ayah dan bunda, harus benar-benar melakukan perencanaan yang matang, at least 1 bulan sebelum memutuskan untuk berlibur. Hal ini penting, karena selain harga tiket akan lebih murah jika di-booking jauh-jauh hari, tentunya akan ada budget yang harus dialihkan untuk menikmati liburan. Misalkan, jika biasanya 30 € dipakai untuk mengisi kulkas selama seminggu, jika dalam bulan yang sama akan pergi berlibur, 15 € harus cukup untuk mengisi perut selama seminggu. Beragam masakan berbahan dasar telur pun tidak jarang jadi pelarian demi liburan yang menyenangkan. Yah seperti kata pepatah lama, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Ketiga adalah cuaca. Berbeda dengan Indonesia yang hanya memiliki dua musim yang jelas, jika tidak hujan ya panas. Kalaupun hujan masih ada warung kopi dan mie rebus instan sebagai tempat berteduh, atau kalau panas mendera masih ada mall-mall nyaman ber-ac.  Well, itulah nikmatnya negara tropis. Disini, cuaca adalah obrolan sehari-hari masyarakat Eropa, cuaca kadang menjadi topik pembuka yang paling aman untuk berkenalan dengan orang di jalanan. Lucunya, jika tiba-tiba langit berubah mendung, orang-orang rata-rata akan berubah menjadi sendu, dan jika matahari muncul, raut muka orang-orang di jalanan terlihat sumringah. Tidak seperti di negara tropis, matahari di negara-negara di Eropa selalu dinanti-nanti. Well, kembali lagi mengapa cuaca itu penting, karena nantinya si cuaca inilah yang akan menentukan pakaian musim apa yang akan kita masukkan ke dalam koper kita, apakah pakaian musim panas, musim dingin, musim semi atau musim gugur. Maklum, berhubung kami-kami ini biasanya memilih pesawat murah, jadi biasanya hanya akan dapat jatah kabin pesawat seadanya.

Tidak melihat cuaca di negara tempat tujuan terkadang bisa berakibat fatal loh, karena jangan salah, ketika di negara keberangkatan matahari bersinar terang, bisa jadi di negara tempat tujuan nanti ternyata hujan dan berangin, layaknya cerita kami ketika mendarat di kota Porto, Portugal. Kami membayangkan matahari yang akan tersenyum manis di setiap paginya, berjalan santai di pinggir pelabuhan dengan menggunakan summer short and shirt, dan tidak lupa sepasang sunglasses. Bukan salah kami, jika kami berekspektasi seperti itu, nyatanya memang teman kami yang tinggal disana selalu bercerita demikian. Namun memang sepertinya samudra Atlantik sedang tidak ingin bersahabat, dia mengirimkan badai dan hujan ke kota yang biasanya disinari matahari tepat disaat pesawat kami mendarat disana. Dan lucunya tidak hanya kami yang bisa dibilang salah kostum hari itu, hampir sebagian besar penumpang di pesawat yang kami tumpangi berasal dari Prancis, dimana mereka hanya memakai pakaian musim panas ala kadarnya. Sejujurnya, kami tidak putus asa dan masih berharap hujan ini tidak akan berlangsung lama, kenyataannya ternyata lain 4 hari 3 malam langit kota Porto dan Braga ternyata tetap diselimuti oleh awan kelabu yang enggan pergi. Aku dan temanku bahkan harus sampai membeli pakaian hangat baru karena kami berdua sudah tidak sanggup lagi menahan angin dingin yang terus menyerang. Walaupun cuaca tidak mendukung, liburan kali ini harus tetap berjalan, cuaca tidak boleh menjadi penghalang kami untuk bersenang-senang.

_MG_8809

Hari pertama di kota Porto. Kota yang kecil namun menyenangkan, karena untuk berjalan-jalan dipusat kota kami tidak perlu menaiki kendaraan umum. Cukup hanya dengan berjalan kaki, kami bisa menjajaki hampir seluruh tempat wisata di kota Porto. Tujuan pertama, seperti biasa aku dijuluki miss BM (banyak mau) apalagi yang berkaitan dengan masalah perut. Dan tampaknya mereka sudah cukup mengerti, sebelum aku mulai bawel karena kelaparan, temanku pun langsung mengantar ke sebuah cafe terkenal di pusat kota Porto, Majestic Café. Cafe yang berlokasi di Santa Catarina Street yang sudah berdiri sejak tahun 1921. Cafe yang biasanya didatangi oleh kalangan elit setempat ini memang cukup terkenal dan banyak mendapat rekomendasi dari berbagai situs tempat liburan, untuk memasukinya saja pun, kami harus mengantri. Arsitekturnya menurutku sangat sederhana layaknya arsitektur eropa lainnya, namun yang lebih menarik perhatian adalah design interior cafe tersebut. Aku benar-benar merasa sedang berada di tempat minum kopi di kapal Titanic (walaupun sebenarnya aku belum pernah kesana). Cermin-cermin besar mengelilingi dinding ruangan, ditambah dengan kursi-kursi dan meja-meja klasik bak berada di dalam Chateau de Versailles. Tidak hanya itu para pelayan cafe-nya pun dilengkapi dengan seragam eksklusif bak seragam pelayan hotel bintang lima. Classic and lux!

Voila, setelah sedikit memanjakan perut, kami pun bersiap melanjutkan jalan-jalan sore di pusat kota Porto, tujuan selanjutnya adalah menyusuri Cais de Ribeira, muara yang sangat cantik dikhiasi kemegahan jembatan Dom Luis. Kali ini malam sepertinya mampir terlalu cepat, keinginan untuk mengicip anggur khas Porto di seberang jembatan pun akhirnya terpaksa kami tunda. Hujan tiba-tiba turun cukup deras, dan kami pun memutuskan untuk segera mencari tempat makan malam, sambil menunggu hujan reda. Pilihan tempat memanjakan perut berikutnya adalah sebuah restoran klasik khas Portugal di pinggir Cais de Ribeira, restoran ini menyajikan makanan khas penduduk Porto, ikan goreng bacalhou (ikan cod) yang disajikan dengan tumisan bawang bombay dan buah zaitun. Aku pribadi kurang begitu menikmati karena ikan goreng ini rasanya terlalu asin, kami bertiga bahkan tak berhenti minum sehabis memasukan sesuap ikan goreng cod ke dalam mulut kami.

Malam pun tiba, saatnya profiter de la nuit (baca: menikmati malam)! Kami pun dibawa ke tempat dimana orang-orang Porto selalu haus dan berdansa, yup, bar areas! It is much better than france so far! Pertama, musiknya bersahabat, orang-orangnya pun bersahabat, harga minumannya pun sangat jauh bersahabat dibanding bar-bar di Prancis. Alhasil, kami pun berpindah sebanyak 3 bar untuk mencoba suasana berbeda sampai pagi menjelang.

Hari ke-dua di kota Braga, Portugal. Bukan hanya karena kota ini memiliki nama yang sama dengan jalan yang cukup ternama di kota Bandung, lantas aku tiba-tiba teringat akan kota tempatku tumbuh besar. Kota Braga, sebuah kota yang terletak di dataran tinggi Portugal yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang indah, tidak salah bukan mengapa seketika itu aku teringat akan kota Bandung. Kota ini letaknya tidak begitu jauh dari kota Porto, tidak sampai 10€ perorang kami sudah sampai ke kota ini dengan menggunakan kereta regional. Hari ini kami memutuskan bermalam di kota ini, kebetulan teman kami sekolah di kota ini, dan beruntungnya kami pun bisa bermalam di rumahnya. Setelah menaruh barang-barang kami dan bersiap-siap, aku dan temanku dibawa ke salah satu tempat wisata terkenal di kota Braga, Catedrale Do Bom Jesus, sebuah gereja kuno bergaya gotik yang bangunnannya mirip seperti candi. Gereja kuno ini terletak di atas bukit kota Braga, gereja yang cukup besar membuat kami memutuskan mampir sebentar ke sebuah restoran bintang 4 yang terletak bersebelahan dengan gereja ini, Panoramique Restaurant. Sesuai namanya, restoran ini berada di ujung bukit dimana para pengunjung dimanjakan oleh keindahan panorama kota Braga dari atas bukit. Walaupun restoran ini berbintang empat, namun harganya sangat sangatlah bersahabat, bayangkan aku hanya mengeluarkan kocek tidak lebih dari 19€ dengan menu paling enak dan mahal juga dessert yang beraneka ragam. +100 untuk wisata kuliner di kota Braga !

Well, setelah puas memanjakan perut, kami melanjutkan sight-seeing kami ke gereja tua, menaiki anak tangga menuruninya, dan mengambil foto kenangan secepat mungkin. Kali ini kami tidak bisa berlama-lama, selain dingin, Dima sang tour-guide harus ke gereja di hari minggu. Kami pun harus segera turun bukit. Kali ini taxi yang kami pesan tak kunjung datang, sepertinya sang supir taxi kurang mengerti dengan penjelasan teman kami tentang posisi kami saat ini. Untungnya, seorang ibu penjaga kios suvenir yang baik hati menawarkan diri untuk menjelaskan tempat kami berada kepada sang supir via telepon.  Tak lama kemudian, taxi mercedez-benz kami pun datang dan segera melaju dengan gila menuju pusat kota.

Pusat kota Braga, tidak terlalu banyak hal menarik, beberapa pertokoan, tea & coffee shops, restaurants, terlihat membosankan, namun kami sedikit beruntung, walaupun cuaca mendung dan suhu udara saat itu cukup rendah, kami berkesempatan melihat karnaval kecil yang sedang berlangsung di pusat kota. Tak terasa malam hari pun datang, kali ini teman kami mengajak kami makan di restoran khas pelajar di kota Braga, walaupun rasanya tidak bisa dibandingkan dengan restoran yang pertama kami datangi, namun yang cukup membuat kami kaget adalah kami hanya membayar 5€ untuk menu lengkap yang isinya sudah termasuk sup sebagai makanan pembuka,nasi ikan goreng tepung, dessert dan minuman. Sangat murah untuk kami yang biasa tinggal di Prancis.

Keesokkan paginya, masih di kota Braga. Hari ini kami memutuskan bangun lebih pagi, karena kami akan mencoba Brunch à la Braga. Teman kami pun membawa kami ke sebuah restoran khas kota Braga yang menyajikan menu sarapan pagi yang cukup unik, Franceshinha. Makanan ini terbuat dari roti bakar, smoked beef, telur mata sapi yang dipanggang dan disajikan dengan saus keju yang kental. Mmhhhh, yummy! Walaupun cuaca tidak mendukung semenjak kami datang kesini, rasanya wisata kuliner di kota ini cukup membayar semuanya.

474909_10151750922772873_645861872_o
above the Dom Louis Bridge

Setelah kenyang dengan sarapan pagi ini, kami kembali ke kota Porto untuk mengunjungi beberapa tempat yang belum sempat kami kunjungi di hari sebelumnya. Tujuan pertama kami adalah jembatan Dom Luis, kali ini kami ingin merasakan sensasi berada di atasnya, untuk menuju kesana kami menaiki tram kuno yang berhenti tepat di depan gereja yang letaknya tidak jauh dari jembatan ini. Berada di atas jembatan ini serasa ingin terbang, benar-benar tinggi sampai-sampai salah satu dari kami tidak sabar ingin segera sampai ke tepian karena sedikit takut ketinggian. Perjalanan menyebrangi jembatan Dom Luis lumayan melelahkan, ditambah angin yang bertiup cukup kencang membuat langkah kami semakin berat. Tapi jangan khawatir untuk menuruninya kami tidak perlu berjalan kaki, sebuah stasiun kereta gantung sudah menanti kami di ujung sana. Selain bisa menikmati pemandangan dari atas kereta gantung, tiket kereta gantung yang kami beli ini ternyata sudah termasuk dengan biaya wine tasting di salah satu Port Wine di Porto. Di tempat ini kami bisa memilih satu gelas wine yang kami suka. Untuk kamu yang biasa minum minuman anggur khas Prancis, tentu kamu akan langsung tahu perbedaan rasanya, wine khas Porto memiliki rasa yang manis jika dibandingkan French Wine dengan rasa yang dibilang tawar. Sekarang aku mengerti mengapa orang Prancis begitu sombong dengan anggurnya, bagi kamu yang belum pernah mencicipi French winePorto wine tidaklah buruk, hanya saja menurutku rasanya terlalu manis. Namun, jangan salah, untuk rose wine atau white wine khas Porto, bolehlah untuk ditandingi dengan wine khas Prancis.

Tidak terasa malam pun tiba, saatnya kembali ke Braga, karena esok hari kami harus kembali ke Prancis. Portugal, walaupun cuaca buruk dan tidak mendukung liburan kami, namun terima kasih karena telah memanjakan perut kami yang jarang-jarang diberi makanan enak dengan harga yang terjangkau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s