living abroad: when almost people think it’s fancy, yet it’s independent!

Memilih tinggal di luar negeri atau belajar di luar negeri terkadang banyak di salah artikan oleh sebagian besar orang di Indonesia. Mereka berpikir jika mereka bukan anak orang yang kaya raya, berarti mereka sangat pintar. Well, bagaimana ketika kamu bukan dari golongan keduanya? Well, disini saya akan sedikit bercerita dan memberikan pandangan sebagian orang yang memilih melanjutkan studi di luar negeri atau kemudian memutuskan bekerja di negeri orang. Setidaknya ini pandangan saya pribadi dan beberapa teman terdekat saya..

“Kamu anak orang kaya ya?” “bukan, ya biasa-biasa saja.” “Kalau gitu pasti pintar?” “Tidak juga, standar.” “Lalu, kok bisa sekolah di luar negeri?” “Kalau yang satu ini cukup panjang ceritanya.”

Berawal dari mimpi kecil orang tua yang selalu menginginkan anaknya bisa sekolah lebih dari orang tuanya dan kalau bisa sekolah-lah di luar negeri. Semuanya berawal dari sana, saya rasa bisa dibilang ini adalah mimpi orang tua Indonesia pada umumnya. Bagaimana pencapaiannya? Itu semua tergantung dari seberapa besar keinginan, ketekunan untuk meraihnya, kesabaran dan tentunya pengorbanan keluarga. Dan jika saya bisa tekankan disini adalah uang terkadang bukanlah segalanya.

Keinginan yang besar.

Seberapa besar keinginan kamu untuk pergi ke luar negeri? Jika hanya sebatas pertanyaan “ka, aku pengen sekolah di Prancis dong, gimana ya caranya?” Saya menjawab: “Sudah tau mau sekolah apa? Sekolah berbahasa inggris atau prancis?” “Sudah pernah belajar bahasa Prancis?”. Kalau ketiga pertanyaan itu kamu jawab belum. Saya sarankan untuk kembali lagi bertanya setelah ketiganya sudah kamu putuskan dan lakukan.

Saya pun begitu, prinsip saya: “semua yang kamu inginkan tidak bisa dilakukan secara instan, yang instan itu ya cuma mie instan”. Saya tidak semata-mata tiba-tiba pergi ke Prancis. Saya dan bahkan teman-teman saya yang lainnya pun melakukan hal yang sama. Kemanapun kamu berencana sekolah di Eropa atau Asia dimana bahasa lokalnya bukan bahasa Inggris, sekolah bahasa adalah step pertama yang harus kamu lalui. Ada level bahasa tertentu yang harus kamu lewati sebelum mendaftar sekolah atau mengajukan aplikasi visa. Dan prosesnya itu tidak sebentar. Kamu harus punya planning setidaknya satu tahun sebelum berangkat ke Prancis. Satu tahun itupun hanya untuk kamu yang akan kesini untuk sekolah bahasa, atau sekolah yang berbahasa inggris. Proses belajar bahasa prancis di Indonesia misalnya membutuhkan setidaknya 1 tahun kelas intensif sebelum kamu bisa sampai ke level tertentu yang digunakan nantinya untuk mengirim aplikasi visa pelajar ke Prancis atau mendaftar ke sekolah-sekolah yang berbahasa prancis.

Pengorbanan keluarga.

“Sebaik-baiknya temanmu tetap saja orang pertama pelarianmu dan sudah dapat dipastikan akan menolongmu adalah keluargamu sendiri. Dan jika keluargamu pun tidak sanggup berdoalah pada Tuhan, karena hanya Tuhan yang akan memudahkan kesulitanmu. Jadi jangan pernah mengandalkan orang lain.” itu yang selalu ibuku bilang. Dan memang benar adanya. Tidak ada keluarga manapun yang mau melihat anaknya kesulitan di luar negeri. Betapa sakitnya perasaan orang tuamu ketika mendengar telepon anaknya yang menangis dan mengeluh.

Ada masanya ketika kamu dulu hanya akan bercerita pengalamanmu, keseharianmu, bahkan cerita cintamu hanya kepada teman-teman atau sahabat terdekatmu. Ketika kamu sudah di luar negeri, dan tidak mengenal siapa-siapa, semuanya akan berubah. Hanya keluargamu yang akan mengangkat telepon di waktu tidur mereka ketika nilai ujianmu kurang. Hanya keluargamu yang bisa mencarikan solusi ketika beasiswamu terlambat berbulan-bulan atau uang sakumu kurang.

Jika teman atau sahabat yang kamu bilang itu benar-benar baik dan sayang padamu, dia pasti akan menanyakan kabarmu dan mengirimkan sepaket mie instan atau kecap manis ketika kamu menulis status kangen makan mie instan khas indonesia, dan bukan hanya minta oleh-oleh ketika mereka tahu kalau kamu akan pulang liburan ke Indonesia. That’s hurt but it’s true!

Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang sahabat saya yang tinggal disini. Semenjak dunia maya diramaikan dengan jejaring media sosial, tidak pelak berbagi pesan atau status keseharian menjadi rutinitas kita semua. Dia pun berbagi pesan di media sosial karena sangat senang karena akhirnya bisa liburan di Indonesia, wajar bukan. Tidak hanya selang beberapa menit teman-teman lamanya yang tinggal di Indonesia pun ramai berkomentar: minta oleh-oleh lah, menitip dibelikan inilah, itulah yang terkadang harganya sangat mahal atau terbilang cukup mahal untuk teman saya yang pelajar dan bekerja paruh waktu disini. Aku tidak habis pikir apakah teman-temannya itu pernah memikirkan akan dengan apa teman saya ini akan membeli oleh-oleh tersebut, bagaimana membawanya, apakah masih ada ruang di kopernya untuk oleh-oleh temannya itu? Agar kamu semua tau, berat maksimum koper yang bisa ditaruh di bagasi hanya sekitar 20 kg untuk pesawat yang murah, dan 30 kg untuk pesawat sekelas singapore airlines. Dan apa mereka juga pernah berpikir berapa bulan teman saya itu harus menabung untuk membeli tiket pesawat pulang ke Indonesia?

Well, jika kamu memang teman yang benar-benar tulus kamu seharusnya tidak akan minta hal itu. Tanpa kamu minta pun, jika kamu memang selalu ada di ingatannya, dia pasti tidak akan pernah lupa membelikan souvenir kecil untuk kamu, walaupun itu hanya sebuah gantungan kunci kecil atau sebatang coklat.

Asal kamu tahu, ketika kami memutuskan pulang liburan ke Indonesia, bukan hanya souvenir yang kami pikirkan, ada berbagai urusan yang harus kami selesaikan disini, seperti menghubungi provider ponsel agar ponsel kami bisa dibuka untuk kartu lokal, memberi tahu landlord kalau kita akan berlibur, izin ke kantor untuk yang sudah bekerja, bersih-bersih rumah, packing, mengatur budget liburan, dan masih banyak lagi yang harus dikerjakan sendiri di tengah kesibukan kami.

Semuanya serba sendiri.

Sudah empat tahun lebih saya tinggal di Prancis, saya bahkan pernah tinggal di kota sangat kecil, kecil, cukup besar dan bahkan metropolitan. Untuk yang satu ini saya beruntung dilahirkan di keluarga dengan orang tua yang keduanya sibuk bekerja, setidaknya saya tidak terlalu kaget dengan kemandirian.

Saya sering sekali mengembalikan perkataan teman-teman saya yang bilang “enak ya kamu tinggalnya di luar negeri, photo-photonya sama bule terus, jalan-jalan terus, makan enak terus, gajinya pake euro, semua statusnya selalu berbahasa inggris dan prancis, enak ya transportasi disana!” , dan lain sebagainya.

Yang pertama: “photonya sama bule terus” artinya bisa berbagai macam, antara tinggal di kota kecil jadi tidak ada orang indonesia lainnya di kota tempat tinggalnya, memang hanya punya teman-teman bule, atau hanya memilih berteman dengan bule! Intinya, bule juga manusia, cuma bedanya kita tiap hari makan nasi dia lebih sering makan roti.

Yang kedua: “jalan-jalan terus” artinya untuk kamu yang pelajar dengan uang saku 700€ setiap bulannya (termasuk sewa apartemen dan lain-lain) atau kamu pekerja dengan gaji 2000an (dipotong pajak dan teman-temannya), semakin sering kami jalan-jalan artinya semakin sering juga kulkas kosong, dan hanya dipenuhi oleh hidangan dari bahan dasar telur. Ketika kamu memutuskan jalan-jalan keluar negeri, atau eurotrip atau sejenisnya. Walaupun kami berada di daratan Eropa, sudah dari jauh-jauh hari kami harus menyiapkan segala sesuatunya termasuk budget dan waktu untuk liburan. Dan semuanya itu tidak mudah harus penuh dengan perhitungan.

Yang ketiga: Makan enak terus. Jika saya harus disuruh berfoto setiap saya makan, saya rasa perbandingannya akan lebih banyak nasi telor ceplok dibanding makan di restaurant prancis. Berbahagialah kamu yang tinggal di Indonesia, makanan bisa didapat dengan mudah, dengan harga murah, bahkan 7/7d 24/24h.

Keempat, gajinya pakai euro. Well, kamu harus tahu sistem perpajakan di Eropa itu sangat ketat, dan Prancis memiliki pajak yang cukup tinggi untuk para pekerjanya. Ada potongan wajib 20% setiap bulannya, belum termasuk pajak penghasilan yang dibayar setahun sekali, pajak rumah, pajak siaran tv, dan lain-lain. Dan pajak-pajak tersebut wajib hukumnya. Jika kamu lupa membayar, pajak tersebut akan terakumulasi setiap harinya. So, saya rasa di Indonesia masih beruntung. Pesan saya banyak-banyaklah bersyukur.

Kelima, sudah lupa bahasa indonesia ya? Untuk yang satu ini sejujurnya kami tidak bermaksud sombong atau bagaimana, ketika kamu setiap hari harus berbahasa lebih dari 3 bahasa, terkadang otakmu juga lelah. Nah oleh karena itu jangan heran banyak dari kami yang selalu mencampur adukan bahasa kami atau bahkan tidak sengaja melempar status dengan bahasa lokal atau inggris. Itu benar-benar refleks semata.

Keenam, transportasi di luar negeri lebih enak. Jika kamu melihat dari kacamata bersih dan keteraturan transportasi disini, saya bisa mengiyakan untuk yang satu ini. Tapi untuk praktis, Indonesia masih menjadi juaranya, karena Indonesia memiliki ojeg dan becak di setiap sudut jalan.

Well, selamat membaca, selamat berbagi, setiap orang punya cerita kehidupannya masing-masing, tentu saja yang terlihat di mata orang selalu keindahan, karena tidak mungkin seseorang mengabadikan dengan sengaja kesulitan yang dilaluinya. Semua manusia pasti pernah bertemu dengan kesulitan, tidak hanya orang kaya atau orang biasa-biasa saja, tidak hanya yang tinggal di luar negeri atau tinggal di negeri sendiri. It’s human!

cheers.

Advertisements

2 thoughts on “living abroad: when almost people think it’s fancy, yet it’s independent!

  1. halo salam kenal Andi Liza..
    saya mengenal kamu dari siaran di stasiun tv NET yang mewawancarai kamu tentang berpuasa di Paris.

    ada hal yang ingin saya tanyakan,
    saat ini teman saya akan memulai perkuliahannya di nancy.
    sementara sampai saat ini, dia masih belum mendapatkan tempat tinggal.
    Banyak perihal yang mebuat proses itu menjadi terhambat dan saya pikir kamu pasti sudah tau dan berpengalaman mengenai hal itu.

    disini saya ingin meminta bantuan dari kamu, yang mungkin sudah memiliki pengalaman atau kenalan mengenai proses penyewaan tempat tinggal di prancis.
    jika kamu berkenan, tolong sampaikan info perihal penyewaan tempat tinggal disana kepada saya.

    terima kasih
    have a nice day

    1. Halo mba lia, maaf baru lihat comments, apakah temannya sudah dapat tempat tinggal di Nancy, kalau butuh info ttg bersekolah di prancis dan tips mendapatkan tempat tinggal, bisa dilihat disitus pelajar indonesia di prancis, ppifrance.fr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s